Sepuluh Murid Baru
Pagi itu, waktu aku masih kecil,aku
duduk di bangku panjang di depan sebuah kelas. Sebatang pohon tua yang riang
meneduhiku. Ayahku duduk di sampingku, memeluk pundakku dengan kedua lengannya
dan tersenyum mengangguk-angguk pada setiap orang tua dan anak-anaknya yang
duduk berderet-deret di bangku panjang lain di depan kami. Hari itu adalah hari
yang agak penting: hari pertama masuk SD. Di ujung bangku-bangku panjang tadi
ada sebuah pintu terbuka. Kosen pintu itu miring karena seluruh bangunan sudah
doyong seolah akan roboh. Di mulut pintu berdiri dua orang guru seperti para
penyambut tamu dalam perhelatan. Mereka adalah seorang bapak tua berwajah
sabar, Bapak K.A. Harfan Efendy Noor, sang kepala sekolah dan seorang wanita
muda berjilbab, Ibu N.A. Muslimah Hafsari atau Bu Mus. Seperti ayahku, mereka
berdua juga tersenyum.
Namun, senyum Bu Mus adalah senyum
getir yang dipaksakan karena tampak jelas beliau sedang cemas. Wajahnya tegang dan
gerak-geriknya gelisah. Ia berulang kali menghitung jumlah anak-anak yang duduk
di bangku panjang. Ia demikian khawatir sehingga tak peduli pada peluh yang
mengalir masuk ke pelupuk matanya. Titik-titik keringat yang bertimbulan di
seputar hidungnya menghapus bedak tepung beras yang dikenakannya, membuat
wajahnya coreng moreng seperti pameran emban bagi permaisuri dalam Dul Muluk,
sandiwara kuno kami.
“Sembilan orang ... baru sembilan
orang permanda Guru, masih kurang satu...,” katanya gusar pada bapak sekolah.
Pak Harfan menatapnya kosong.
Aku juga merasa cemas. Aku cemas
karena melihat Bu Mus yang resah dan karena beban perasaan ayahku menjalar ke
sekujur tubuhku. Meskipun beliau begiu ramah pagi ini tapi lengan kasarnya yang
melingkari leherku mengalirkan degup jantung yang cepat. Aku tahu beliau sedang
gugup dan aku maklum tujuh tahun, seorang buruh tambang yang beranak banyak dan
bergaji kecil, untuk menyerahkan anak laki-lakinya ke sekolah. Lebih mudah
menyerahkannya pada tauke pasar pagi untuk jadi tukang parut atau pada juragan
pantai untuk menjadi kuli kopra agar dapat membantu ekonomi keluarga.
Menyekolahkan anak berarti mengikatkan diri pada biaya selama belasan tahun dan
hal itu bukan perkara gampang bagi keluarga kami.
“Kasihan ayahku .....
Maka aku tak sampai hati memandang
wajahnya.
“ Barangkali sebaiknya aku pulang
saja, melupakan keinginan sekolah, dan mengikuti jejak beberapa abang dan
sepupu-sepupuku, menjadi kuli .....
Tapi
agaknya bukan hanya ayahku yang gentar. Setiap wajah orangtua di depanku
mengesankan bahwa mereka tidak sedang duduk di bangku panjang itu, karena
pikiran mereka seperti pikiran ayahku, melayang-layang ke pasar pagi atau ke
keramba di tepian laut membayangkan anak lelakinya lebih baik menjadi pesuruh
disana. Para orangtua ini sama sekali tak yakin bahwa pendidikan anaknya yang
hanya mampu mereka biayai paling tinggi sampai SMP akan dapat mempercerah masa
depan keluarga. Pagi ini mereka terpaksa berada di sekolah ini untuk
menghindari diri dari celaan aparat desa karena tak menyekolahkan anak atau
sebagai orang yang terjebak tuntutan zaman baru, tuntutan memerdekakan anak
dari buta huruf.
Aku
mengenal para orangtua dan anak-anaknya yang duduk di depanku. Kecuali seorang
anak lelaki kecil kotor berambut keritimg merah yang meronta-ronta dari
pegangan ayahnya.
Ayahnya
itu tak beralas kaki dan bercelana kain belacu. Aku tak mengenal anak beranak
itu.
Selebihnya
adalah teman baikku. Trapani misalnya, yang duduk di pengakuan ibunya, atau
Kucai yang duduk di samping ayahnya, atau Syahdan yang tak diantar siapa-siapa.
Kami bertetangga dan kami adalah orang-orang Melayu belitong dari sebuah
komunitas yang paling miskin di pulau itu. Adapun sekolah ini, SD Muhammadiyah,
juga sekolah kampung yang paling miskin di Belitong. Ada tiga alasan mengapa
orangtua mendaftarkan anaknya di sini. Pertama, karena sekolah Muhammadiyah
tidak menetapkan iuran dalam bentuk apa pun, para orangtua hanya menyumbang
sukarela semampu mereka. Kedua, karena firasat anak-anak mereka dianggap
memiliki karakter yang mudah disesatkan iblis sehingga sejak usia muda harus
mendapatkan paendadaran Islam yang tangguh. Ketiga, Karena anaknya memang tak
diterima di sekolah mana pun.
Bu
Mus yang semakin khawatir memancang pandangannya ke jalan raya di seberang lapangan
sekolah berharap kalau-kalau masih ada pendaftar baru. Kami prihatin melihat
harapan hampa itu. Maka tidak seperti suasana di SD lain yang penuh kegembiraan
ketika menerima murid angakatan baru, suasana hari pertama di SD Muhammadiyah
penuh dengan kerisauan, dan yang paling risau adalah Bu Mus dan Pak Harfan.
Guru-guru
yang sederhana ini berada dalam situasi genting karena Pengawas Sekolah dari
Depdikbud Sumsel telah memperingatkan bahwa jika SD Muhammadiyah hanya mendapat
murid baru kurang dari sepuluh orang maka sekolah paling tua di Belitong harus
di tutup. Karena itu sekarang Bu Mus dan Pak Harfan cemas sebab sekolah mereka
akan tamat riwatnya, sedangkan para orangtua cemas karena biaya, dan kami,
sembilan anak-anak kecil ini yang terperangkap di tengah cemas kalau-kalau kami
tak jadi sekolah.
Tahun
lalu SD Muhammadiyah hanya mendapatkan sebelas siswa, dan tahun ini pesimis
dapat memenuhi target sepuluh. Maka diam-diam beliau telah mempersiapkan sebuah
pidato pembubaran sekolah di depan para orang tua murid pada kesempatan pagi
ini. Kenyataan bahwa beliau hanya memerlukan satu siswa lagi untuk memenuhi
target itu menyebabkan pidato ini akan menjadi sesuatu yang menyakitkan hati.
“Kita
tunggu sampai pukul sebelas,” kata Pak Harfan pada Bu Mus dan orangtua yang
telah pasrah. Suasana hening.
Para
orang tua mungkin menganggap kekurangan satu murid sebagai pertanda bagi
anak-anaknya bahwa mereka memang sebaiknya didaftarkan pada para juragan saja.
Sedangkan aku dan agaknya juga anak-anak yang lain merasa amat pedih: pedih
pada orangtua kami yang tak mampu, pedih menyaksikan detik-detik terakhir
sebuah sekolah tua yang tutup justru pada hari pertama kami ingin sekolah, dan
pedih niat kuat kami untuk belajar tapi tinggal selangkah lagi harus terhenti hanya
karena kekurangan satu murid. Kami menunduk dalam-dalam.
Saat
itu sudah pukul sebelas kurang lima dan Bu Mus semakin gundah. Lima tahun
pengabdiannya di sekolah melarat yang amat ia cintai dan tiga puluh dua tahun
pengabdian tanpa pamrih pada Pak Harfan, pamannya, akan berakhir di pagi yang
sendu ini.
Baru
sembilan orang Pamanda Guru ..., Ucap Bu Mus bergetar sekali lagi. Ia sudah tak
bisa berpikir jernih. Ia berulang kali mengucapkan hal yang sama yang telah
diketahui semua orang suaranya berat selayaknya orang yang tertekan batinnya.
Akhirnya,
waktu habis karena telah pukul lewat lima dan jumlah murid tak juga genap
sepuluh. Semangat besarku untuk sekolah perlahan-lahan runtuh. Aku melepaskan
lengan ayahku dari pundakku. Sahara menangis terisak-isak mendekap ibunya
karena ia benar-benar ingin sekolah di SD Muhammadiyah. Ia memakai sepatu, kaus
kaki, jilbab, dan baju, serta telah punya buku-buku, botol air minum, dan tas
pungguh yang semuanya baru.
Pak
Harfan menghampiri orangtua murid dan menyalami mereka satu per satu. Sebuah
pemandangan yang pilu. Para orangtua menepuk-nepuk bahunya untuk membesarkan
hatinya. Mata Bu Mus berkilauan karena air mata yang menggenang. Pak Harfan
berdiri di depan para orangtua, wajahnya muram. Beliau bersiap-siap memberikan
pidato terakhir. Wajahnya tampak putus asa. Namun ketika beliau akan
mengucapkan kata pertama Assalamu’alaikum seluruh hadirin terperanjat karena
Tripani berteriak sambil menunjuk ke pinggir lapangan rumput luas halaman itu.
“Harun!.
Kami
serentak menoleh dan di kejauhan tampak seorang pria kurus tinggi berjaan
terseok-seok. Pakain dan sisiran rambutnya sangat rapi. Ia berkemaja lengan
panjang putih yang dimasukan kedalam. Kaki dan langkahnya membentuk huruf x
sehingga jika berjalan seluruh tubuhnya bergoyang-goyang hebat. Seorang wanita
gemuk setengah baya yang berseri-seri susah payah memeganginya. Pria itu adalah
Harun, pria jenaka sahabat kami semua, yang sudah berusia lima belas tahun dan
agak terbelakang mentalnya. Ia sangat gembira dan berjalan cepat setengah
berlari tak sabar menghampiri kami. Ia tak menghiraukan ibunya yang
tercepuk-cepuk kewalahan menggandengnya.
Mereka
berdua hampir kehabisan napas ketika tiba di depan Pak Harfan.
“Bapak
Guru ...,” kata ibunya terengah-engah.
“Terimalah
Harun, Pak, karena SLB hanya ada di Pulau Bangka, dan kami tak punya biaya
untuk menyekolahkannya ke sana. Lagi pula lebih baik kutitipkan dia disekolah
ini daripada di rumah ia hanya mengejar-ngejar anak-anak ayamku .....
“Genap
sepuluh orang ...,” katanya.
Harun
telah menyelamatkan kami dan kami pun bersorak. Sahara berdiri tegak merapikan
lipatan jilbabnya dan menyandang tasnya dengan gaga, ia tak mau duduk lagi.
Bu
Mus tersipu. Air mata guru muda ini surut dan ia menyeka keringat di wajahnya
yang belepotan karena bercampur dengan tepung beras.
Bersambung
(Sumber
: Novel Indonesia Laskar Pelangi 1 Karya Andrea Hirata)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar